Sunan Gresik adalah wali pertama di tanah Jawa yang
memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim atau Malik Maghribi. Ayah Sunan Gresik
bernama Barakat Zainul Alam, seorang ulama besar dari Maghrib atau Maroko, yang
menjadi asal nama Malik Maghribi. Sunan Gresik wafat tanggal 12 Rabiul Awal 822
H (1419 m) dan dimakamkan di Gresik. Kompleks makam Sunan Gresik atau Syekh
Maulana Malik Ibrahim berada di Desa Gapura, Sukolilo, Gresik yang berjarak tak
jauh dari alun-alun Gresik dan Masjid Jami' Gresik. okasinya sekitar 200 meter
alun-alun Gresik, kamu bisa berjalan kaki dari sana. Makam ini jadi objek
wisata religi dan ikon Kota Gresik karena banyak wisatawan yang datang untuk
berziarah.
Lokasi : Jalan Malik Ibrahim No. 56-62, Gapuro Sukolilo,
Bedilan, Kec. Gresik, Kab. Gresik
2.
Sunan Ampel
Sunan Ampel adalah putra dari Sunan Gresik. Ia
memiliki nama asli Raden Mohammad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat. Salah satu
ajaran Sunan ampel yang paling terkenal adalah falsafah “Moh Limo”. Sunan Ampel
berdakwah di daerah Ampeldenta sehingga nama Raden Rahmat kemudian dikenal
dengan sebutan Sunan Ampel. Makam Sunan Ampel berada di tengah Kampung Arab
tepatnya di Jalan Ampel Blumbang Nomor 2A, Surabaya. Komplek makam ini buka
selama 24 jam dan ramai dikunjungi pada bulan Ramadhan terutama pada malam
ganjil seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
Lokasi : Jalan Ampel, Petukangan I, Kec. Semampir, Kota
Surabaya
3.
Sunan Giri
Sunan Giri adalah putra dari Maulana Ishaq dengan Dewi
Sekardadu, dengan nama asli Joko Samudro. Sewaktu kecil, ia sempat berguru
dengan Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Sunan Giri dikenal dengan cara dakwah
menggunakan lagu-lagu permainan anak seperti Jelungan, Jor, Gula-ganti,
Lir-ilir, dan Cublak Suweng. Makam Sunan Giri terletak di Jalan Sunan Giri,
Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Makam ini
berada di atas bukit, jadi kalau kamu berziarah ke sini, perlu melewati banyak
anak tangga untuk sampai di makam yang ada di dalam rumah kayu dengan
arsitektur joglo yang khas.
Lokasi : Jalan Sunan Prapen No. 7 Pedukuhan,
Sekarkurung, Kec. Kebomas, Kab. Gresik
4.
Sunan Bonang
Sunan Bonang memiliki nama asli Raden Makdum Ibrahim
yang lahir pada tahun 1465 M di Surabaya. Sunan Bonang adalah putra keempat
Raden Rahmat atau Sunan Ampel, dan juga saudara kandung sunan Drajat.
Penggunaan gamelan sebagai salah satu media dakwah menjadi asal nama dari Sunan
Bonang, dengan salah satu tembang yang terkenal berjudul Tombo Ati. Komplek
Makam Sunan Bonang terletak di Kelurahan Kutorejo, Kabupaten Tuban yang berada
di sebelah barat Masjid Agung Tuban.
Makam Sunan Bonang cukup unik karena ada di sebuah
pendopo semi outdoor berlantaikan marmer. Kamu bisa melakukan wisata religi
disini tanpa dipungut biaya. Tapi nggak ada salahnya berdonasi untuk perawatan
komplek makam.
Usai ziarah, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke
Pantai Boom yang berada nggak jauh dari makam. Jadi, kamu bisa menikmati wisata
religi sekaligus beristirahat sambil menikmati pemandangan alam.
Lokasi : Jalan KH Mustain, Kutorejo, Kec. Tuban, Kab,
Tuban
5.
Sunan Drajat
Sunan Drajat yang memiliki nama asli Raden Syarifudin
atau Raden Qasim adalah anak dari Sunan Ampel. Sunan Drajat juga merupakan adik
dari Sunan Bonang yang juga merupakan salah satu wali yang menyebarkan agama Islam
di Pulau Jawa. Metode dakwah Sunan Drajat adalah dengan kesenian suluk dan
tembang pangkur, serta ajaran Catur Piwulang. Komplek Makam Sunan Drajat
terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Di kawasan makam, terdapat museum Sunan Drajat yang
menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah, termasuk perangkat gamelan seperti
bonang, angklung, ketuk, rebab, gender, dan saron.
Untuk mencapai makam, peziarah harus melewati tujuh
tingkat teras, di mana sebagian besar teras awal dibangun dengan material kayu.
Sementara beberapa teras terakhir sudah menggunakan batu bata, dengan gaya yang
mirip miniatur candi.
Sunan Drajat dikenal dengan falsafah kemanusiaannya
yang mendalam dan banyak memberikan pesan moral dalam dakwahnya.
Lokasi : Desa Drajat, Kec. Paciran, Kab. Lamongan
6.
Sunan Muria
Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah wali termuda
yang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah, khususnya daerah Kudus,Pati, dan
di sekitar daerah-daerah pedalaman seputar Gunung Muria Salah satu versi
menyebut bahwa Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga dari pernikahannya
dengan Dewi Saroh, yang merupakan putri dari Syekh Maulana Ishaq. Namun ada
pula yang mengatakan bahwa Sunan Muria adalah putra Sunan Ngudung dari istrinya
yang bernama Dewi Sarifah. Sunan Muria dikenal cara dakwah melalui kesenian,
seperti tembang macapat Sinom dan Kinanti. Komplek Makam Sunan Muria terletak
di Bukit Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa
Tengah. lokasi padepokannya yang terletak di atas gunung. Tepatnya di lereng
Gunung Muria, tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, dengan ketinggian sekitar
1600 mdpl.
Kalau kamu mau berziarah ke makam Sunan Muria,
sebaiknya siapkan stamina yang cukup, karena untuk mencapai makam, kamu harus
menaiki sekitar 430 anak tangga.
Lokasi : Desa Colo, Kec.
Gawe, Kab. Kudus
7.
Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga atau Raden Said adalah anak dari Bupati
Tuban bernama Tumenggung Wilatikta dan istrinya yang bernama Dewi Nawangrum.
Raden Said yang tadinya seorang begal berubah setelah bertemu dan menjadi murid
Sunan Bonang. Sunan Kalijaga dikenal dengan cara dakwahnya yang menggunakan
pendekatan seni dan budaya, salah satunya adalah wayang. Makam Sunan Kalijaga
atau Raden Said terletak di Kelurahan Kadilangu, Demak, Jawa Tengah, yang
berjarak 2 kilometer dari Masjid Agung Demak.
Kompleks makam Sunan Kalijaga berada di kawasan
pesisir pantai utara Jawa Tengah, tepatnya di Desa Kadilangu, Demak. Berjarak
sekitar 2 km di tenggara Kota Demak atau 3 km dari Masjid Agung Demak yang
punya arsitektur joglo dengan atap tumpang tiga.
Untuk berziarah ke makam Sunan Kalijaga, peziarah
harus melewati tiga pintu gerbang sebelum sampai di Gedung Kasunanan, tempat
makam Sunan Kalijaga dan keluarganya dikebumikan.
Disana juga terdapat dua gentong tua peninggalan Sunan
Kalijaga. Air dari gentong itu sering digunakan peziarah untuk membasuh tubuh,
minum, atau dibawa pulang.
Awalnya, gentong ini digunakan untuk menampung air
wudhu dan beras, tapi setelah Sunan Kalijaga wafat, gentong-gentong tersebut
dijadikan tempat menampung air buat menjamu peziarah.
Lokasi : Jalan Raden
Sahid, Kadilangu, Kec. Demak, Kab. Demak
8.
Sunan Kudus Sunan
Kudus atau Ja’far Shadiq adalah putra dari Raden Usman Haji atau Sunan
Ngudung. Ayah Sunan Kudus merupakan saudara kandung dari Sunan Ampel. Sunan
Kudus bergelar Wali Al-ilmi yang berarti orang yang berilmu luas. Bersama
masyarakat, Sunan Kudus membangun masjid Kudus atau Masjid Al-Aqsa pada tahun
956 H ata 1537 M memiliki menara yang berbentuk seperti candi. Makam Sunan
Kudus terletak persis di belakang bangunan utama Masjid Menara Kudus yaitu di
Pejaten, Kauman, Kudus, Jawa Tengah. Sebelum berziarah, kamu bisa shalat
terlebih dahulu di masjid. Untuk menuju makam Sunan Kudus, kamu bisa keluar
dari masjid dan berjalan ke arah kiri menara, lalu lurus ke belakang masjid.
Makam Sunan Kudus yang berada di sebuah pendopo besar berbalut kain putih.
Lokasi : Gg Kauman,
Pejaten, Kec. Kota Kudus, Kab. Kudus
9.
Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati memiliki nama asli yaitu Syarif
Hidayatullah adalah putra dari Raja Abdullah (Syarif Abdullah) dengan ibunya
bernama Rara Santang yang merupakan putri Prabu Siliwangi. Sunan Gunung Jati
mulanya berdakwah dan menyebarkan agama Islam di daerah Cirebon menggantikan
Syekh Datuk Kahfi di Gunung Sembung. Setelah masyarakat Cirebon banyak yang
memeluk agama Islam, Sunan Gunung Jati lantas melanjutkan berdakwah ke daerah Banten.
Komplek Makam Sunan Gunung Jati terletak di Jalan Alun-Alun Ciledug Nomor 53,
Astana, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.
Kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati terletak di Desa
Wisata Religi Astana, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dari pusat Kota Cirebon,
lokasinya cuma berjarak sekitar 4,5 kilometer dan bisa ditempuh nggak lebih 10
menit berkendara.
Kompleks makamnya diketahui punya sembilan pintu,
yaitu Pintu Gapura, Pintu Krapyak, Pintu Pasujudan, Pintu Ratnakomala, Pintu
Jinem, Pintu Rararoga, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan Pintu Teratai.
Meski begitu, peziarah umum cuma bisa mengakses sampai
Pintu Pasujudan, karena pintu-pintu lainnya khusus bagi keluarga keraton
Cirebon dan keturunan Sunan Gunung Jati.
Lokasi : Jalan Alun-Alun Ciledug No. 53, Astana, Kec.
Gunung Jati, Kab. Cirebon
Kegiatan ziarah ke makam Wali Songo memiliki makna sebagai
wujud rasa terima kasih atas usaha mereka menyebarkan Islam dengan cara
mengirimkan doa-doa. Selain itu, ziarah ke makam Wali songo juga menjadi
pengingat bahwa manusia pada akhirnya akan mati, sehingga harus beribadah
dengan baik sebagai bekal di akhirat nanti.
Comments
Post a Comment